PEMBANGUNGAN HIJAU DAN AKAR PIKIR KITA

 

Ini artikel yang saya coba kirimkan ke redaktur Kompas dan Republika, nah daripada tidak pernah naik cetak, kita naikan disini saja hehe

Penulis adalah Mahasiswa yang sedang berjuang di Program Doktoral, Sekolah Pasca Sarjana, Ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan, IPB

 


Indonesia terus mengalami banyak perubahan sejak pertama kali memperoleh kemerdekaan dari Kerajaan Belanda sampai saat ini. Guncangan krisis ekonomi pada tahun 1966 dengan tingkat inflasi mencapai 650% membuat perubahan arah politik negara dari demokrasi sosialis pada era Presiden Soekarno menjadi demokrasi terpimpin dan liberalirasi SDA pada era Presiden Soeharto. Pada tahun 1997 krisis ekonomi kembali mengguncang dengan penurunan 14% GDP[1] dan menciptakan turbulensi arah politik ekonomi demokratis yang baru serta munculnya pembangunan neo liberal dan laisses faire.

Pada awal kemerdekaan Presiden Soekarno telak meletakan fondasi bentuk negara kemudian estafet diberikan kepada Presiden Soeharto yang mengemban tugas untuk membangun ekonomi negara melalui swasembada pertanian dan industrialisasi. Pasca orde baru masuklah babak reformasi kebijakan dan desentralisasi kekuasaan untuk mengatasi kegagalan pasar, kelembagaan dan kebijakan. Pada akhir fase sejarah bangsa, para founding father  telah mengantarkan kita menjadi generasi zaman now yang konsumtif (consumerist).

Negara Indonesia tercatat sebagai penghasil dan pengekspor minyak kelapa sawit terbesar di dunia[2]. Trend produksi minyak kelapa sawit dunia terus meningkat sejak tahun 1960 sampai saat ini. Indonesia sebagai eksportir terbesar sampai 20 juta ton CPO melampaui Malaysia, negara-negara Afrika maupun Amerika Selatan. Sedangkan berdasarkan kategori aktor sampai 2014 area terbesar disumbangkan oleh perusahaan perkebunan swasta besar dan petani sawit skala kecil dengan total luasan 12 juta hektar[3]. Semua didorong karena tingginya konsumsi domestic Indonesia untuk kebutuhan industri dan ekspor CPO. Data BPS tahun 2008-2017 menunjukkan trend peningkatan perkebunan kelapa sawit secara drastis sejak satu dekade yang lalu. Fenomena oil palm boom menggantikan era kejayaan loging – Banjir Kap pada tahun 50-70an, HTI pada tahun 80-90an, karet pada tahun 90-98 dan tambang batu bara sampai tahun 2008.

Perkembangan produksi minyak kelapa sawit dan ekspansi perluasan kebun kelapa sawit dihadapkan pada dikotomi manfaat dan kutukan untuk Indonesia. Satu sisi sektor perkebunan kelapa sawit memberikan kontribusi 14% dari total PDB, menciptakan lapangan pekerjaan, mengurangi pengangguran dan kelimpahan sumber material untuk bioenergi. Namun pada sisi lain Indonesia menghadapi persoalan deforestasi, kebakaran hutan, kehilangan keragaman hidup tumbuhan dan binatang menjadi lanskap monokultur, konflik tenurial, dan kerentanan masyarakat lokal atas perubahan dari pertanian tradisional yang diasosiasikan dengan sistem budaya menjadi perkebunan kelapa sawit yang memiliki sistem budidaya yang berbeda. Implikasinya masyarakat dihadapkan pada perubahan budaya hidup dan mode produksi (aplikasi teknologi tinggi, GMO, aturan perusahaan, dan sebagainya).

 

Ekonomi Hijau

Pada tahun 2030 Indonesia menargetkan pengurangan emisi CO2 sebanyak 29% dengan mempertahankan tingkat PDB tahunan sebanyak 7% sebagai target dari ekonomi hijau. Langkah yang ditempuh pemerintah dengan menggenjot pembangunan berbasis ekstraksi sumberdaya alam dan ekspansi pembangunan industri pertanian. Keduanya berhasil meningkatkan PDB namun semakin menjauh dari kesejatian aspirasi hijau dikaitkan dengan perlindungan lingkungan serta pengurangan emisi gas rumah kaca.

Munculnya ekonomi hijau merupakan respon terhadap ekonomi konvensional melalui intervensi peningkatan investasi teknologi rendah karbon, pengalihan kepada energi terbarukan dan pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan. Anderson et al (2016) mencermati munculnya Ecological Modernization (EM) pada tahun 1980 sebagai awal mula pendekatan regulatori terhadap keberlanjutan dan pengelolaan lingkungan. Ide besar inilah yang digunakan untuk membatasi pertumbuhan dan ekspansi kapitalis melalui pendekatan pasar.

 

Paradoks Pemikiran Ekonomi Hijau

Berangkat dari berbagai ide tentang ekonomi hijau dan tujuan penyelamatan lingkungan dari persoalan perubahan iklim, kehilangan keanekaragaman hayati dan polusi industri melalui reformasi pasar, kemajuan industri dan modernisasi ekologis nampaknya belum dapat menyelesaikan persoalan keadilan sosial dan relasi alam dan masyarakat.

Secara defakto tata kebijakan saat ini telah menghasilkan jalan eksploitasi sumberdaya alam secara intensif untuk pertumbuhan ekonomi. Kita sedang berkompromi dan melakukan trade-off terhadap kerangka berpikir tata kelola sumberdaya alam yang mampu menjawab tantangan penurunan angka pengangguran dan pertumbuhan ekonomi dan kerusakan ekologis yang ditimbulkannya. Meskipun kompromi tersebut tidak selalu menjadi solusi menang-menang.

Pertumbuhan ekonomi sangatlah penting namun tidak cukup untuk dapat mengakselerasi persoalan ketimpangan, kelaparan dan mal-nutrisi di dunia[4]. Saya lebih berkeyakinan menjawab krisis yang sedang kita hadapi ini dengan nilai-nilai kemandirian yang diadopsi dari pemikiran Bill Mollison[5] tentang Permakultur. Ia mendasarkan pada tiga nilai utama yaitu konservasi yang bertumpu kepada kepedulian terhadap manusia, pembangunan yang bertumpu pada kepedulian terhadap bumi, dan ekonomi yang bertumpu pada pembagian yang adil. Ketiga nilai-nilai inilah yang dapat menjadi panduan ketika berpikir tentang konservasi melihat relasi antara manusia dengan alam. Nilai-nilai tersebut kemudian harus diterjemahkan kedalam aksi kemandirian pada basis lokal melalui desain alam yang dapat memenuhi kebutuhan pangan masyarakat tempatan yang spesifik (food abundance).

Hubungan antara filosofi nilai-nilai yang diyakini, konsepsi dan penerapan dalam desain sistem kemandirian masyarakat tersebutlah yang akan mengubah hubungan antara manusia dengan alam dan pada akhirnya manusia dengan manusia. Persoalan memberi makan 11 miliar manusia bukanlah persoalan produksi pertanian semata melalui industrialisasi komersil dan konsumtif, melainkan juga persoalan etika tentang berbagi yang adil. Ada sekitar 1,3 milyar ton hasil pertanian dibuang secarang global. Sisa makanan di negara maju banyak berasal dari gerai toko retail yang tidak terjual maupun tidak habis. Di negara berkembang banyak terbuang pasca pemanenan, penyimpanan, pengiriman dan pengolahan. Padahal semua makanan tersebut dihasilkan dari energy yang sangat besar. Secara keseluruhan kita perlu memikirkan kembali sistem material economic kita yang linear dan mentransformasikannya kedalam sistem baru yang tidak menyia-nyiakan sumberdaya alam dan manusia.

 

Epilog

Festinger pada tahun 1957 menerbitkan A Theory of Cognitive Dissonance dari Universitas Staford[6]. Cognitif Dissonance terkait dengan situasi konflik antara yang diyakini dengan sikap. Hal tersebut menghasilkan ketidakharmonisan pada diri seseorang yang mendorong perubahan baik dalam perilaku maupun kepercayaan untuk mengurangi ketidaknyamanan dan mengembalikan keseimbangan tersebut. Sebagai contoh, ketika ada orang merokok (perilaku) dan ia mengetahui bahwa merokok dapat menyebabkan kanker (kognisi). Seharusnya ia memlih tetap menjadi perokok dan percaya merokok itu sehat. Atau meninggalkan merokok karena percaya bahwa merkok tidak sehat dengan merubah perilaku.

Selama ini kita memandang bahwa pertumbuhan ekonomi itu penting. MP3EI menargetkan pertumbuhan sampai 11 % dengan menggenjot eksploitasi dan industrialisasi pertanian sehingga dapat menunjang terhadap pendapatan masyarakat perkapita. Sedangkan disisi lain kita dipusingkan dengan paradox pembangunan hijau yang menghadapi permasalahan korupsi, ekstraksi berlebihan, perubahan iklim, kehilangan keanekaragaman hayati dan polusi industri.

Peran ilmuwan menjadi semakin penting dan relevan ditengah masyarakat. Posisinya yang diuntungkan untuk dapat berdialektika dengan pemikiran-pemikiran manusia terbaik pada zamannya merupakan anugerah Tuhan yang diberikan kepada sedikit orang. Pemikiran terbaik, warisan pemikiran peradaban sejatinya menjadi bahan ijtihad baru melihat kekinian problematika yang dihadapi umat.

Pembangunan seharusnya menciptakan ruang hidup untuk semua elemen agar manusia dapat hidup secara permanen di bumi. Reorientasi kembali pembangunan bukan hanya untuk menghitung pertumbuhan yang pada akhirnya menguntungkan akumulasi kekayaan sebagian industrialis namun untuk sebaik-baiknya keberpihakan kepada masyarakat. Kita perlu merefleksikan ulang cara berpikir tentang Pembangunan Hijau sistem lama yang masih mengeksploitasi sumberdaya alam dan lebih mendasarkan keberlanjutan serta keseimbangan seperti praktik permakultur pada lanskap desa, closed loop production[7], energi terbarukan, penghidupan ekonomi lokal yang mandiri, green chemistry dan praktik tidak ada limbah (zero waste) pada tingkat keluarga sampai desa. Sebagian orang mungkin masih menganggap hal tersebut sebagai tidak realistis, terlalu ideal dan tidak mungkin terjadi. Namun menurut saya yang tidak realistis adalah mereka yang mau terus memilih jalan lama untuk terus mengeksploitasi bumi (green washing) atas nama pembangunan itu sendiri.

—ooo—

[1] Emil Salim. 2013. Indonesian Forests and People in Change dalam Whicy Way Forward People, Forests, and Policymaking in Indonesia. CIFOR. Bogor. Indonesia

[2] Malau F.P. 2014. Ketika perkebunan kelapa sawit tertuduh merusak lingkungan. http://www.bumn.go.id/ptpn6/berita/2144/Ketika.Perkebunan.KelapaSawitTertuduh.Merusak.Lingkungan.html

[3] Direktorat Jenderal Perkebunan-Kementerian Pertanian Republik Indonesia. 2014. Statistik Perkebunan Indonesia 2013-2015: kelapa sawit. Jakarta.

[4] FAO. 2012. The State of Food Insecurity in The World 2012. Economic growth is necessary but not sufficient to accelerate reduction of hunger and malnutritioin. Rome, FAO.

[5] Bill Mollison. 1988. Permaculture: A Designers’ Manual. Second edition

[6] Festinger, L. 1957. A Theory of Cognitive Dissonance. Stanford, CA: Stanford University Press.

[7] Annie Leonard. 2015. The Story of Stuff. http://www.storyofstuff.org

Iklan

Kuliah Doktoral Perdana Kembali Ke Kampus Hijau

Setelah lulus tahun 2005 dari Fakultas Kehutanan IPB, rasanya saya kapok untuk kuliah lagi. Melihat daftar nilai pada papan pengumuman sudah menjadi momok saat itu. Namun Tuhan meminta saya untuk menghadapi dari pada lari. Pada tahun kelulusan S1 saya ditawarkan untuk ambil double degree Erasmus Mundus Program dengan host Universitas Joensuu, saat ini dikenal dengan University of Eastern Finland di North Karelia. Saya menghabiskan dua tahun keliling 7 negara dan berakhir menetap di Kota Uppsala, Swedia, menyelesaikan degree yang kedua.

Saya pikir perjalanan akademik sudah selesai. Bebas. Akhir tahun 2007 saya pulang ke Indonesia. Saatnya menikah dan bekerja bukan. Lagi pula sudah cukup keren titel sekarang untuk melamar dan mendapatkan pekerjaan gaji yang cukup. Dan selamat tinggal perkuliahan. Saya rasa program doktoral bukan jalan saya. Masih trauma juga belajar selama enam tahun sarjana.

Perjalanan hidup di Kabupaten Berau dan bekerja untuk BINGO atau lebih tepat BIENGO mungkin ya. Big International Environmental Non Government Organization. Weleh kerennya. Berbasis di Kota Arlington, Amerika Serikat. Lembaga asing, bergaji besar, dikelilingi orang pintar, sudah menjadi idaman pencari kerja. Paling tidak terasa lebih keren dilihat orang bisik hati kala itu. Sambil bersyukur paling tidak bisa menaruh jarak dengan kampus yang terkandang bisa mencundangi mahasiswa hanya dari secarik nilai saja.

Saya trauma kuliah selama menempuh sarjana di Bogor. Hidup jadi aktivis yang sibuk hilir mudik, tapi mental saat ujian tengah semester. Setiap lihat nilai sambil menahan napas. Jantung berdegup, dalam hati berdoa. Viola, barisan nilai berjajar antara B, C sampai E. Sepertinya A agak sungkan untuk muncul. Alhamdulillah, Tuhan mengizinkan saya lulus enam tahun dengan IPK dibawah 2,75.

Rektorat kampus sempat shock, mahasiswa IPK rendah bisa dapat beasiswa S2 Erasmus Mundus. Malah sudah diterima sebelum ada tanda-tanda skripsi beres apalagi lulus. Untung Tuhan berbuat semauNya. Jadilah saya diminta kebut menyelesaikan S1 untuk bisa mengikuti perkuliahan S2 di luar negeri.

Negara Finlandia terkenal dengan sistem pendidikannya yang tidak lazim tapi terbaik sedunia. Jumlah penduduknya yang kecil, pajak setiap warga yang tinggi dan iklim yang ekstrim. Kondisi yang membuat pemerintah memberikan pelayanan yang sangat manusiawi kepada warganya. Mungkin supaya betah tinggal disana. Selama periode inilah saya disembuhkan dari luka dan trauma kuliah. Meskipun saya belum begitu punya kapasitas cukup untuk melahap semua ilmu yang diberikan para dosen dan kolega disana. Salah satunya karena keterbatasan bahasa Inggris, Finnish dan Arab.

“Setiap anak itu belajar hanya saja dengan waktu dan cara yang berbeda.”

– Mading Kampung School

Cuma di Finlandia yang mengizinkan mahasiswanya boleh mengambil ujian dan boleh mengulang seumur hidup kalau tidak lulus. Dan hanya di Finlandia dan Swedia saya mendapatkan privilese untuk melewati perkuliahan dengan nilai pass atau fail saja. Dan hanya di kedua negara inilah, thesis S2 ditempuh tanpa pendadaran, hanya dengan skill presentasi saja. Puji Tuhan.

Mungkin ada benarnya, ada pameo, kalau kuliah di PTN Indonesia itu lebih sulit dari pada diluar negeri. Bisa lulus saja sudah syukur alhamdulillah. Toh rekan bekerja juga tidak pernah bertanya berapa IPK kita bukan. Teramat beruntung bisa lulus S2 apalagi S3. Hiiy sereem. Jadi konklusinya yang amat disimplifikasi, lulus di luar negeri itu gampang, apalagi dari negara skandinavia. Lulusan terlihat kece karena besutan luar negeri dan punya peluang tinggi cari kerja yang lebih mudah. Selain tentu saja pulang ke Indonesia bawa Euro dari hasil kerja part time untuk modal nikah atau sekedar menyambung hidup.

Setelah 10 tahun, saya insaf dengan ketakutan selama menempuh S1. Mungkin now or never untuk usia yang hampir 40 tahun. Kalau hidup cuma satu kali, pikir ku. Mungkin worth doing untuk coba kuliah lagi program doktoral! Melalui pesan whatsapp istri, saya coba membuat surat lamaran beasiswa S3 dari IPB join penelitian dengan ETH Zurrich. Mempersiapkan proposal penelitian yang terinspirasi dari pekerjaan sebagai konsultan.
Yup, saya masuk short listed candidate. Tahap akhir adalah presentasi didepan user dari IPB dan CIFOR. Sebagian panelis sudah profesor dan sebagian lain dosen senior.

Sebetulnya saya buat bahan presentasi satu jam sebelum tampil, karena memang waktu persiapannya mepet. Kebetulan bahan presentasinya tentang Kalimantan Timur yang saya sudah menjadi tempat hidup selama 9 tahun terakhir. Wal hasil, saya diberi nilai terbaik dari sepuluh kandidat yang lain.

Disinilah saya, melewati verifikasi pendaftaran mahasiswa baru IPB, meskipun dengan IPK yang tidak ideal. Terima Kasih Tuhan. Satu quote yang saya temukan di mading Kampung School. Mungkin adik saya yang mencetak kertas itu. “Setiap anak itu belajar hanya saja dengan waktu dan cara yang berbeda.” Saya baru terbangunkan dari kesadaran belajar setelah 18 tahun melewati masa-masa awal perkuliahan S1. Long life education hakikatnya disini, karena setiap orang punya golden time yang berbeda untuk menyerap dan enlightened terhadap ilmu yang didapatkan. Program doktoral ini adalah waktu saya untuk kembali ke kampus hijau. Kuliah lagi dengan dimensi baru, golden time saya untuk lebih memaknai setiap kupasan ilmu, diskursus dan tulisan. Bukan untuk mengejar gengsi atau pekerjaan. Tapi untuk menjadi manusia bijak…tentu saja IPK kali ini harus diatas 3,25 supaya tidak drop out.

Bismillah dan mohon doanya para pembaca.

Cimande
September 14, 2017

 

Dua Kota Nabi

Mengunjungi Kota Madinah dan Kota Mekah itu mengingatkan pada senandung kasih kisah Majnun dan Layla. Keduanya adalah karakter puisi-puisi sufi sebagaimana Krishna untuk puisi-puisi dari India. Majnun secara harfiah berarti menyelami pikiran dan Layla bermakna malam yang kabur. Cerita seorang anak tampan yang bernama Qays ibn al-Mulawwah yang saat itu masih anak-anak ketika ia jatuh hati dengan Layla Al-Aamiriya. Ia yakin akan cinta pada pandangan pertama ketika bertemu di maktab (sekolah tradisional). Setelah itu ia mulai menuliskan puisi-puisi yang indah tentang Layla dan ia membacakannya secara terbuka di pojok jalanan kepada siapa saja yang sudi untuk mendengarkan. Gaya pengungkapan cinta dan pengabdian seperti itu menyebabkan orang memanggilnya Majnun, yang berarti orang gila.

Suatu hari, Majnun mendapatkan keberanian untuk meminang kepada ayah Layla, namun sang ayah menolak permintaan tersebut. Pernikahan yang menurut ayahnya hanya akan membuat skandal. Tidak sepantasnya Layla menikahi kepada lelaki yang dipanggil orang gila. Sebaliknya, Layla dijanjikan kepada lelaki lain dari kampung tetangga.

Majnun menjalani kesedihan dan meninggalkan rumah dan keluarganya lalu menghilang ke padang belantara dimana ia hidup sengsara sendiri diantara binatang liar. Dalam belantara tersebut Majnun melewatkan harinya menulis puisi untuk yang dicintainya.

Layla dipaksa menikahi lelaki lain yang lebih tua, meskipun ia tidak mencintainya karena hatinya masih milik Majnun. Meskipun ia tidak mencintai suaminya, ia adalah anak perempuan yang loyal dan bertahan menjadi istri yang setia.

Berita pernikahan Layla menghancurkan jiwa Majnun yang terus hidup menyendiri, menolak untuk pulang kerumah ayah dan ibunya di kota.

Ayah dan ibu Majnun merindukan sekali anaknya dan berharap setiap harinya ia akan pulang dengan selamat. Mereka mau meninggalkan makanan dibawah tajuk taman dengan harapan ia akan pulang kembali kepada mereka dari padang pasir. Namun Majnun tetap tinggal di padang belantara, menuliskan kidung cinta dalam kesendirian tanpa pernah berbicara kepada satu jiwapun.

Majnun melewati hidup dalam kesindirian di kelilingi oleh binatang liar yang akan berkumpul disekitarnya dan melindunginya pada malam-malam padang yang panjang. Seringkali ia terlihat oleh para penjelajah yang melintasinya dalam perjalanan menuju kota. Para penjelajah mengatakan bahwa Majnun melewati harinya dengan membacakan puisi kepada dirinya sendiri dan menulis di pasir menggunakan ranting kayu. Mereka mengatakan bahwa ia telah menjadi gila karena hati yang pupus.

Bertahun-tahun kemudian, ayah dan ibu Majnun meninggal dunia. Mengetahui pengabdian kepada kedua orangtuanya, Layla berketetapan untuk mengirimkan berita kepada Majnun tentang kepulangan mereka. Pada akhirnya ia menemukan orang tua yang mengaku pernah melihat Majnun di padang pasir. Setelah banyak meminta dan memohon, lelaki tua menyetujui untuk menyampaikan pesan kepada Majnun pada perjalanan berikutnya.

Satu hari, lelaki tua tersebut benar melewati Majnun di tengah padang. Ia menyampaikan pesan kematian orangtua Majnun dan menyaksikan dampak nestapa yang menimpa pujangga muda.

Menghadapi penyesalan dan duka yang mendalam, Majnun menarik diri dan berjanji untuk tinggal di padang pasir sampai mati menjemput.

Beberapa tahun kemudian, suami Layla meninggal. Wanita muda itu berharap pada akhirnya ia bisa bersama dengan cinta satu-satunya, bersama Majnun selamanya. Namun sedih hal itu tidak bisa terjadi. Tradisi meminta Layla tinggal di rumah sendiri untuk meratapi kematian suaminya selama dua tahun tanpa bisa bertemu orang lain. Pikiran yang tidak bisa bersama Majnun dua tahun lagi melebihi dari apa yang bisa ditanggung oleh Layla.  Mereka telah terpisahkan selama satu kehidupan dan dua tahun lagi dalam penyendirian, dua tahun tanpa bisa melihat yang paling dicintai, cukup membuat wanita muda menyerah dalam hidup. Layla meninggal dengan hati pupus, sendiri di dalam rumahnya tanpa pernah melihat Majnun kembali.

Berita kematian Layla sampai juga kepada Majnun di tengah padang belantara.  Ia kemudian mengunjungi tempat Layla di kuburkan dan ia kemudian menangis dan menangis sampai pada akhirnya ia pun menyerah pada duka yang begitu mendalam dan ia meninggal disisi kuburan cinta sejatinya.

–ooo000ooo–

Seorang pujangga bertanya, “Apakah kamu pernah bertanya tentang tempat itu? Tentang siapa yang pernah tinggal pada tempat itu? Tidakkah kamu bertanya dimana Layla pernah tinggal?”

Majnun berkata, “Tidak, saya sudah bertanya. Tapi bagaimana puing-puing bangunan memberikan saya jawaban? Kemana semua orang telah pergi?”. Saya pergi ketempat tinggal itu dan saya menciumi dinding ini dan itu. Kemudian ia berkata, bukan cinta pada dinding yang telah mengambil hati saya. Namun cinta pada seseorang yang pernah hidup pada dinding ini.

I pass by these walls, the walls of Layla

And kiss this wall and that wall.

It’s not love of the houses that has taken my heart

But of the One who dwells in those houses.’

 

  • Qays ibn al-Mulawwah

 

Itulah mengapa kita mengunjungi dua kota mulia ini. Bukan karena tempatnya namun karena jiwa yang paling kita cintai pernah tinggal disana, Nabi SAW berjalan disana.

Salah satu pujangga berkata, mereka melihat Majnun yang sedang merawat seekor anjing, memberinya makan dan menepuk-nepuk tubuhnya. Mereka berkata kepada nya. “Apa yang salah dengan mu? Kenapa kamu memperlakukan anjing seperti itu?” Ia bilang, “Jangan menyalahkan aku dan tinggalkan semua sangkaanmu. Saya pernah melihat anjing ini dekat dengan Layla.”

Hanya karena anjing tersebut pernah dekat dengan Layla, ia memiliki cinta kepada anjing tersebut. Itulah cinta sungguhan. Saat ini banyak orang modern tidak mengetahui apa cinta itu. Banyak orang modern telah kehilangan kapasitas mencintai karena mereka sangat asing dengan hati mereka sendiri. Ketika kita terputus dengan hati bagaimana bisa kita mengenal cinta? Karena rahasia hati adalah cinta.

Itulah cinta para sahabat kepada Rosul SAW. Bilal RA tidak bisa tinggal di kota Madinah setelah wafatnya Nabi SAW. Ia pergi ke Syam dan tinggal di Syria. Suatu hari setelah bermimpi akan nabi yang meminta untuk dikunjungi, setelah 20 tahun kepergiannya.

Setelah sampai di Kota Madinah, Umar RA memintanya untuk mengumandangkan azan namun permintaan khalifah tersebut ditolaknya.  Kemudian Hasan RA dan Husein RA mendatanginya. Setelah dipeluk dan diciuminya, mereka meminta Bilal RA kembali mengumandangkan azan. Bilal RA tidak kuasa untuk menolak permintaan cucu Nabi SAW tersebut.

Ia tidak mau mengumandangkan azan. Ia tidak bisa azan kembali di masjid An Nabawi karena terlalu sulit bahwa dahulu ia memanggil Nabi SAW untuk sholat. Pada akhirnya ia mengumandangkan azan. Seketika itu orang-orang keluar dari rumah-rumah mereka dengan berlinang air mata. Berpikir bahwa Nabi SAW akan datang kembali dan memimpin sholat.

Azan itu tidak selesai dikumandangkan sampai akhir karena begitu berat perasaan Bilal RA mengenang yang dicintai. Meskipun setelah 20 tahun begitulah bagaimana hati mereka yang saling terjalin dengan Nabi SAW. Inilah kondisi para sahabat, kondisi saling mencintai. Kamu tidak bisa mencintai Alloh SWT tanpa mencintai apa yang Alloh cintai. Kamu tidak mencintai yang tercinta tanpa mencintai apa yang ia cintai.

Perjalanan menuju dua kota, Madinah dan Mekah, merupakan tilas balik cerita kehidupan Nabi SAW yang menceritakan jalan menuju pengabdian dan merasakan jiwa dalam pencarian Tuhan.

 

Young Hujjaj: Perjalanan di Dua Kota Cahaya

Sahabat muda, Assalamu’alaikum,

Ketika memikirkan Iman atau Islam…apa hal yang pertama kali muncul di pikiran mu?

Sholat?..Puasa?..Menunaikan Haji atau Umroh?..atau mungkin Zakat?

Sekarang, ketika muncul kata Produktivitas…apa yang kemudian muncul?

Menyelesaikan tugas atau pekerjaan?…menjadi efisien? Atau fokus belajar?…

Bagaimana kalau menggabungkan kedua hal tersebut?

Apakah iman dapat membantumu membuat mu menjadi anak muda yang lebih produktif?…menjadi lebih berenergi?…lebih berani mengambil tantangan? lebih bermanfaat untuk orang lain? Lebih fokus dalam mengelola waktu?

Bagaimana kalau pengetahuan tentang produktivitas dapat membantu mu menjadi muslim yang lebih baik, beribadah dengan baik dan bermanfaat untuk orang-orang disekitar mu.

Perjalanan yang anak-anak muda lakukan dalam buku ini ingin membuka pengalaman, refleksi, kekuatan dan impian untuk bisa menjadi muslim yang lebih baik. Sebuah perjalanan spiritual yang telah merubah kebiasaan-kebiasaan buruk menjadi lebih produktif. Mengenali orang yang paling produktif dalam sejarah sekaligus mencintainya. Muhammad SAW.

Cerita tersebut kami tuangkan dalam buku inspiratif “Young Hujjaj: Perjalanan di Dua Kota Cahaya”

 

Kaya Kayu: Wooden Doll Inspiration

I was lucky enough to be able to learn a lot about children and play as part of British Council Fellowship in 2015 to ELEVATE Reimagine play for children through nature and culture. The two inseparable words from the world of children as play is work to them. They learn through play imitating adults’ life. So they become ready to take on adult roles later down the road. 
As part of my capacity building plan and to improve my connectivity with similar local organization, I have visited the Kaya Kayu studio in Bandung. I was fortunate to meet with Indra Audipriatna as the founder and artist who have started making wooden toys since 2014. Kaya Kayu create contemporary wooden doll similar with the Kokeshi Japan’s traditional wooden doll or the Russian Matryoshka wooden dolls. The differences are on co-creation with children and re-using wood waste materials into a miniature figure by drawing lines and dots. 
His first wooden doll came after seeing a lot of unused wood waste materials and which then burnt at saw mill in the end. In early development the product is produced for the wedding merchandise. Along with his wife, Adina Haadiy, the dolls are customized as requested. Until one day Indra saw an opportunity to teach these products as a child art and play workshop. Since then Kaya Kayu through contemporary approach has facilitated many kids workshops. 
Kaya Kayu inspire me on how to connect play with nature through co-creating three-dimensional wooden doll object. In the context of environmental education for children, I see a lot of stories can be told on the process regarding the origins of timber, tropical rain forests, the iconic mamals and how we should treat the environment. 
Kaya Kayu brings inspiration that any simple material around children can be a tool and medium to play with. I myself took the two hours workshop and learned in person with him his aspiration of the doll. He created step wise basic drawing and painting. The rest are left for me to finish up my own doll. I tried to simplify my son’s outfit at that time for the doll and I think I have done it quite well. 
  
I want to bring this inspiration into child’s play activities which ties to the environment and local culture in pop-up class. The pop-up idea itself was taken from James Sale which created Pop-Up Parks in UK when I met him while in Japan along with other ELEVATE finalists. 
Finally I took Kampung School into a wider sphere, namely Bogor City and make ‘Kelas Pop-Up Ekokriya’ or Eco-Craft Pop-Up Class abbreviated as POPAKO. The term of Ekokriya or Eco Craft deliberately chosen to reflect a process of making craft products with ecological messages. So POPAKO is meant to initiate creative play activities in a fun way starting in Bogor City green space areas. The activity contains play game, share learning regarding ecological issues, and a brief workshop to create eco- craft. 

         
Until now I have done three workshops moving from different green spaces and reaching much wider audience then before. The participation ranging from preschool through adolescence and adulthood. Classification of age becomes an important limitation in considering the type of workshop materials in accordance with their motoric skills. 
In the next learning session at the end of December 2015 to January 2016 with the support of BC ELEVATE, I will arrange a meeting with several key mentor of Indonesia traditional games and child psychology. I can’t wait to meet them in person and share the story with all of you.
Best/abang

Day 23 Menginspirasi Anak Yatim Piatu

Akhir penghujung bulan Ramadhan. Menjalani akhir dari perjalanan ibadah yang didalamnya ada rahasia Ilahi tentang keberkahan dan kemakbulan doa 1000 bulan.  Sepertinya semua umat Islam yang beriman sedang berburu amal sholeh dan ingin meraup keberkahan. Semoga Alloh menerima semua amal sholeh kita.

 Hari Selasa, ada proyek kecil yang disiapkan oleh keluarga Nashiry untuk sebuah panti asuhan di Sukarami, Palembang. Ayah ingin menanamkan nilai berbagi untuk Bang Zaky. Kali ini berbagi ilmu.

Jam 1 siang, ayah mengajak abang mengunjungi panti RI yang terdekat. Suasana panti penuh luar biasa. Sebagian anak dewasa menyambut kedatangan kita berdua dan sebagian lain sedang asik bermain video games serta ngobrol. Tetiba ayah disorongkan buku tamu  dengan isian berupa tabel bantuan. Sempat canggung diawal sampai kemudian cukup jelas bahwa Bani Nashiry ingin memberikan bantuan berupa berbagi ilmu tentang membuat topeng binatang dari kardus.

Meskipun sempat ditolak ketua panti karena kesibukan acara berbuka bersama anak-anak dengan salah satu BUMN. Tawaran individu dari ayah yang diutarakan langsung tidak bisa dielakkan oleh pancaran semangat sebagian anak-anak. Walhasil terjaringlah 3 anak usia SD yang akan berpartisipasi.

Workshop 90 menit berjalan seru. Ada Hendi si Harimau, Sonia si Sapi, dan Ferlan si Flaminggo. Tidak ketinggalan ayah si angsa dan Bang Zaky si Zebra.

   Workshop memang telah berakhir dan kami merasakan kebahagian berbagi itu. Meskipun miris mendapati panti asuhan dipandang hanya sebagai tempat penampungan semua penderitaan. Tamu sebagai pemberi, pengurus panti sebagai penerima dan anak-anak sebagai ‘display’ penderitaan yang  semakin memelas secara visual akan menjaring dana bantuan yang lebih luas.

Ayah pernah bilang, terhadap diri abang. Menjadi piatu, yatim atau keduanya adalah takdir dari Tuhan. Berjalanlah dengan tegak karena dirimu diciptakan Tuhan bukan untuk dikasihani melainkan untuk ditumbuhkan potensinya. To unlock the hidden power. Untuk menggiringmu mencari titik ledak yang dapat menjadi energi mendapatkan fitrahnya untuk belajar seumur hidup.

Semoga cara kita memandang panti pun ikut berubah dari tempat derita menjadi tempat untuk menumbuhkan Bakat.

Ayah di Palembang/15 Juli 2015

   

Day 3 Apakah anda sibuk tapi tidak produktif?

Produktifitas untuk seorang muslim adalah waktu yang penuh keberkahan. Artinya dari jumlah waktu yang sama tapi padat dengan kebaikan.
Pada saat bulan Ramadan seringkali kita berpikir waktu yang tidak produktif  itu seperti orang yang menghabiskan waktunya di depan TV, tidur dari pagi sampai waktu sholat Ashar dan hal serupa lainnya. Ini benar namun ada satu macam lagi, orang yang sibuk dengan pekerjaan duniawiah-nya.

Tipe workaholic ini sibuk satu harian berjibaku dalam pekerjaannya, delapan sampai 12 jam dalam sehari bahkan lebih. Mungkin kita bisa menganggap paling tidak Ia lebih produktif dari si fulan diatas. Tapi sebenarnya, kalau ia meninggal hari ini, akankah kesibukan tersebut bisa membawa bekal yang cukup untuk akhiratnya?

  Selain untuk bekerja, hari ketiga Ramadan saya lewati bersama tiga keponakan di Samarinda. Senang bisa hadir di tengah jiwa mereka yang sudah sekian bulan tidak bertemu. Sahabat workaholic, bulan ini saya diingatkan kembali untuk adil membagi waktu antara pekerjaan, teman, keluarga dan ibadah. Jangan sampai kita menyesal pada akhir Ramadan akan amalan sholeh dan kedekatan keluarga yang terlewatkan.

Ayo, bagi waktu untuk menyambut di sepuluh hari pertama yang penuh rahmah serta ampunan Alloh AWJ. Sehingga saat di penghujung Ramadan kelak bisa lebih produktif dan mendapatkan keutamaan 1000 bulan.
Bang Rizal/Cimande, 21 Juni 2015